Oleh: hendryfikri | Mei 19, 2009

Cashflow Langit

CASHFLOW LANGIT “Zainab berkata:
‘Kalian dikawinkan oleh keluarga kalian, sementara aku dikawinkan oleh Allah SWT dari atas langit yang tujuh…”
(HR. Bukhari)

Mawar tak berkuncup, ia masih saja memainkan pena yang melekat di jemari lentiknya. Putih bersih sebersih kertas yang ingin ia tulis oleh ungkapan hatinya. Mawar tak berkuncup meski sedikit saja. Ia masih digalau keraguan yang bersemayam lama dihatinya, hatinya tak lagi berdamai dengan kenyataan yang menerpa dirinya. Mawar merunduk sedih, begitu lama ia masih saja memainkan pena yang melekat di jemari lentiknya. Ada apa dengan Mawar?

Di PT. Astra Internasional, di ruangan ber-AC tak membuat Mawar menguncup mekar. Tugas-tugas kantorpun dikerjakan dengan setengah hati. Padahal hari belumlah beranjak dzuhur tapi berkali-kali ia memperhatikan Masjid yang terlihat
di kaca dekat meja kerjanya. Mawar yang menjabat Assisten Manajer di kantornya itu mempermainkan pena, mencoret-coret kertas folio yang menumpuk di meja kerjanya. Entah sudah berapa kertas yang bergulung lecek membulat di bak sampah itu. Kenapa Mawar tak memekarkan kuncupnya?

Di rumahnya pun Mawar terlihat jelas oleh Ibunya tampak tak berkuncup seperti biasanya. Tapi Ibunya tak memberanikan diri untuk bertanya padanya. Ibu hanya tersenyum tulus sambil membelai rambut Mawar yang menjuntai panjang
menutupi dadanya yang mendatar. 23 tahun dia telah membesarkan Mawar, anaknya yang paling dibanggakan. Lalu siapakah kini yang merenggut ketakkuncupan anaknya itu?

“Saya bukan siapa-siapa dan bukan pula apa- apa. Saya lahir dari keluarga yang serba kekurangan, Bapak saya yang sejak 2 tahun lalu pensiun sudah tidak bisa lagi membiayai anak- anaknya sekolah…”

“Saya memang masih kerja di perusahaan swasta dengan gaji yang habis untuk kebutuhan orangtua dan adik-adik saya, tapi sejak krisis moneter mulai ada perampingan di perusahaan tersebut dan kemungkinan saya salah satu orang yang akan dirumahkan. Hanya tinggal menunggu waktu saja”

“Saya berkeinginan menikahi kamu bukan karena apa-apa, bukan karena pekerjaanmu, kekayaanmu, kecantikanmu atau apalah namanya. Saya hanya merasa kamu lah wanita yang mampu membantu saya bersama-sama mengarungi samudra kehidupan ini. Berdua lebih baik dari sendiri”

Kata-kata itu kembali terngiang dari sudut lamunan Mawar, perkataan Gilang yang mengungkapkan kondisi diri dan Keluarganya begitu merasuki relung batinnya. Membimbangi sekaligus menyesakkan Airmata menggenang di kelopak mata bening Mawar, tumpah jatuh ke pipinya yang merona. Mawar tak kuasa menahan tangis yang kian menderas sederas hujan sore tadi. Mawar membiarkan kuncupnya tak merekah begitu saja. Mawar mengapa menangis?

Mawar jadi kian rajin mendekat dengan Tuhan- Nya. Berlama-lama di sajadah yang dibelinya 1 tahun yang lalu saat menyambut Hari Raya Iedul Fitri. Rajin pula ke toko buku mencari buku-buku tentang pernikahan, tentang penyejuk hatinya yang terlihat gersang. Rajin pula menemui guru ngajinya yang dulu pernah membimbing dirinya mengenalkan Islam dengan begitu sederhana tapi dahsyat. Tapi Mawar tetap belum berkuncup, apalagi memekar.

Mawar menerima pinangan Gilang, karena memang tak layaklah untuk tidak menerimanya. Gilang yang sholeh,  bersahaja, rajin mengisi pengajian di mana-mana, rajin sholat berjamaah di Masjid rumahnya, rajin memimpin demo ketika masih kuliah. Tak merokok, pacaran apalagi main perempuan. Gilang yang sederhana, apa adanya dan sangat low profile. Lalu kenapa Mawar belum menguncupkan dirinya? Hanya Mawar yang tahu persis. Ungkapkanlah Mawar..

“Saya percaya bahwa selama saya bersama Allah maka segala urusan saya akan diurus oleh- Nya, maka saya tak pernah khawatir terhadap episode yang sedang, akan dan nanti dilalui oleh saya” Ungkap Gilang saat Mawar mengungkapkan keraguannya untuk menerima Gilang menjadi pasangan hidupnya. Mawar ketika itu hanya menunduk dan tanpa menguncupkan dirinya. Raut mukanya kian meredam.
Mawar tahu itu, tapi hatinya berbicara lain. Hanya saja Mawar tak sanggup untuk menolak pinangan Gilang bersama keluarganya itu. Mawar hanya mengangguk dan menangis begitu saja. Tangis haru ataukah sendu?Mawar jawablah.

2 minggu sebelum hari pernikahannya, Mawar mendapat kabar bahwa Gilang di PHK. Kekhawatirannya tertunai sudah. Adakah niat suci mampu meredam realitas hidup? Mawar bertanya dalam hatinya. Mawar meneguhkan diri dengan janji Allah lewat firman-Nya—An-Nur: 32—yang ia tempel di dinding kamarnya. Mawar sekuat jiwa melepas pasrah pada segala realitas yang ditakdirkan untuk dirinya pun untuk Gilang suaminya nanti.

“Mawar, kau pasti kecewa melihat saya yang sudah tak bekerja lagi. Tapi percayalah saya bukan lelaki yang bertopang dagu. Kau adalah tanggung jawab saya, gajimu, uangmu adalah milikmu seluruh. Aku tak akan menganggu itu, tapi uang saya, jerih payah saya adalah uang kamu juga. Percayalah, Allah telah memberikan rezeki sesuai porsinya sesuai kadarnya dan sesuai kehendak-Nya” Gilang berucap, usai menunaikan sholat Maghrib bersama Mawar yang
telah menjadi suaminya 2 hari yang lalu.

Mawar hanya terdiam, menggenangkan airmata di kelopak mata jernihnya sambil mencium punggung telapak tangan  Gilang, suaminya kini. Gilang seperti membaca batin Mawar. Dikecupnya penuh haru ubun-ubun Mawar persis seperti yang Gilang lakukan di malam pertama itu. Kidung mesra menyelimuti mereka berdua. Sejenak saja.

Mawar meminta kepada Gilang untuk tinggal dirumah orangtua Mawar, karena Mawar lebih nyaman disana. Lebih luas, tidak sumpek dan selalu bersih. Tapi Gilang bersikeras untuk tinggal di rumah orangtuanya saja. Mawar kecewa tapi tak berani untuk diungkapkan. Mawar pendam disudut hatinya, mendekam hari demi hari. Bulan demi bulan. Sampai akhirnya terbacalah oleh Gilang kekecewaan Mawar dengan pilihannya.

“Mawar, ada banyak ketidaknyamanan yang justru membentuk kepribadian kita menjadi struggle, kokoh. Apakah saya merasa nyaman di rumah ini? tidak, tidak sama sekali Mawar..tapi dari ketidaknyamanan inilah saya menjadi seperti
ini sekarang, membentuk saya agar tak mudah menyerah, mensyukuri apa yang ada, tidak meratapi keadaan dan berusaha keluar dari ketidaknyamanan ini. Bagaimana caranya? Ya dengan menjalani rasanya tidak nyaman ini. Mawar mau kan memahami ini?menjalani ini dan belajar dari ketidaknyamanan ini?. Insya Allah tidak akan lama, karena kita harus punya rumah sendiri, untuk kita, untuk anak-anak kita…membentuk keluarga yang sakinah
mawaddah warahmah..” Gilang berujar dengan nada harap. Gilang sebenarnya juga terlalu risih jika harus tinggal dirumah mertuanya. Meringsek di ketiak keluarga Mawar, dimana harga diri kelelakiannya? Mau ditaruh dimana wajahnya ini? Gilang bersikukuh. Dan satu hal lagi, Gilang ingin Mawar mematuhi keinginan baiknya itu. Karena ketaatan seorang istri setelah Allah dan Rasul-Nya adalah kepada suaminya barulah kemudian kepada kedua orangtuanya.

Mawar belum mau mengerti itu, Mawar merindui rumahnya yang sudah 3 bulan ini tak ditinggalinya. Dan baru 2 kali  mengunjunginya dan itupun tidak menginap. Mawar kasihan dengan Ayah dan Ibunya. Mereka sudah tidak punya tempat berlabuh lagi. Selain itu tempat tinggalnya kini sangat jauh dari tempat Mawar bekerja. Sehingga membuat Mawar harus berangkat lebih pagi dan pulang cukup malam. Kenapa Gilang tak memahami itu, kenapa justru dia yang harus memahami ketidaknyamanan ini? Mawar bertanya keras di dalam hatinya. Mawar tak berani mengungkapkannya dihadapan Gilang. Hanya diam yang merayap.
Ada sesuatu yang membuat hatinya luruh. Sikap Gilang setiap waktu yang tidak berhenti untuk mengatakan “Mawar sayangku, aku mencintaimu…sepenuh hati. Sungguh”. Itu dilakukan Gilang saat ingin tidur dan saat Mawar berangkat kerja. Tapi Mawar tak mengekspresikan ungkapan Gilang itu dengan sebagaimanamestinya. Mawar masih saja tak berkuncup. Hanya mulutnya saja yang mengembang, senyum memanis.

Sudah 11 bulan waktu berjalan. Gilang sudah mulai mendapatkan penghasilan lewat Bisnis yang digeluti bersama 4 orang temannya. Bisnis advertising & Event Organizer. Gilang tahu kalau Mawar belum bisa menerima dirinya sepenuhnya jika belum bekerja formal, kerja kantoran. Gilang sudah menjelaskan kepada Mawar bahwa bisnis
sudah menjadi pilihan hidupnya. Gilang sudah enggan untuk kerja di kantoran. Gilang ingin jadi bos, ingin punya karyawan yang menjalankan bisnisnya. Berkat bisnis advertising & EO ini Gilang bisa beli Motor walau masih kreditan.
Motor Honda Karisma dibelinya untuk memudahkan dirinya untuk keliling ke Perusahaan-perusahaan yang membutuhkan
jasanya dan mengantarkan Mawar ke bus kota sehingga Mawar tak perlu lagi berangkat terlalu pagi dan pulang pun tak perlu khawatir, karena arjunanya akan setia menunggu di tepi jalan dekat bus yang ditumpangi Mawar berhenti.

3 bulan lagi Gilang bersama 4 temannya itu akan mendapatkan proyek senilai 590 Juta untuk mengadakan Pameran Automotive di Jakarta. Lumayanlah bagi hasilnya buat DP rumah di daerah Bintaro Tangerang. Sementara aktivitas
dakwahnya masih bisa Gilang jalani tanpa kesulitan yang berarti. Gilang punya kebebasan waktu dan bisa jadi dalam beberapa tahun lagi Gilang sudah pula bebas finansial.

Mawar yang tengah hamil 6 bulan mulai berkuncup. Mawar pun dipromosikan menjadi Manajer di kantornya itu. Mawar perlahan-lahan kuncupnya mekar jadi bunga. Semerbak harum menghiasi keluarga besarnya. Mengharumi Gilang… “Annikahu miftahul Rizki” Ucap Mawar meyakinkan diri. Merekahlah sudah.
“Tetap carilah dahulu Kerajaan ALLAH dan Kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu
janganlah khawatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari…”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: