Oleh: hendryfikri | Mei 22, 2009

Energi Pelukan

Dari milis tertangga, smg bermanfaat

Suatu hari di gua Hira, Muhammad SAW tengah ber’uzlah, beribadah kepada
Rabbnya. Telah sekian hari ia lalui dalam rintihan, dalam doa, dalam puja
dan harap pada Dia Yang Menciptanya. Tiba-tiba muncullah sesosok makhluk
dalam ujud sesosok laki-laki. “Iqra!” katanya.

Muhammad SAW menjawab, “Aku tidak dapat membaca!” Laki-laki itu merengkuh
Muhammad ke dalam pelukannya, kemudian mengulang kembali perintah “Iqra!”
Muhammad memberikan jawaban yang sama dan peristiwa serupa pun terulang
hingga tiga kali. Setelah itu, Muhammad dapat membaca kata-kata yang
diajarkan lelaki itu. Di kemudian hari, kata-kata itu menjadi wahyu pertama
yang yang diturunkan Allah kepada Muhammad melalui Jibril, sang makhluk
bersosok laki-laki yang menemui Muhammad di gua Hira.

Sepulang dari gua Hira, Muhammad mencari Khadijah isterinya dan berkata,
“Selimuti aku, selimuti aku!”. Ia gemetar ketakutan, dan saat itu, yang
paling diinginkannya hanya satu, kehangatan, ketenangan dan kepercayaan
dari orang yang dicintainya. Belahan jiwanya. Isterinya. Maka Khadijah pun
menyelimutinya, memeluknya dan mendengarkan curahan hatinya. Kemudian ia
menenangkannya dan meyakinkannya bahwa apa yang dialami Muhammad bukanlah
sesuatu yang menakutkan, namun amanah yang akan sanggup ia jalankan.

***

Suatu hari dalam sebuah pelatihan manajemen kepribadian. Para instruktur
yang jugapara psikolog tengah mengajarkan berbagai terapi penyembuhan
permasalahan kejiwaan. Dari semua terapi yang diberikan, selalu diakhiri
dengan pelukan, baik antar sesama peserta maupun oleh instrukturnya.

Namun demikian, mereka mempersilakan peserta yang tidak bersedia melakukan
pelukan dengan lawan jenis untuk memilih partner pelukannya dengan yang
sejenis. Yang penting tetap berupa terapi pelukan. Menurut mereka, pelukan
adalah sebuah terapi paling mujarab hampir dari semua penyakit kejiwaan dan
emosi. Pelukan akan memberikan perasaan nyaman dan aman bagi pelakunya.

Pelukan akan menyalurkan energi ketenangan dan kedamaian dari yang memeluk
kepada yang dipeluk. Pelukan akan mengendorkan urat syaraf yang tegang.
Saya yang saat itu menjadi salah satu peserta, memilih menggunakan pilihan
kedua ini. Pelatihan itu, di kemudian hari memberikan perubahan besar dalam
stabilitas emosi dan kejiwaan saya.

***

Apa yang saya inginkan pertama kali ketika saya sedang bersedih, marah atau
apapun yang secara emosi mengguncang perasaan saya? Dipeluk suami. Pelukan
itu akan menenangkan saya, membuat saya nyaman dan tenang kembali. Apa yang
kami berdua lakukan setelah berantem? Saling memeluk.

Pelukan itu akan menurunkan tensi emosi di antara kami. Pelukan itu akan
merekatkan kembali ikatan cinta di antara kami setelah luka dan kecewa yang
sempat tertoreh. Pelukan itu, akan membuat kehidupan rumah tangga kami
menjadi makin mesra. Segala sedih, segala marah, segala kecewa, dan segala
beban hilang oleh kehangatan pelukan.

Pelukan itu, kemudian tidak hanya berlaku ketika saya terguncang secara
emosi. Setelah setahun lebih kami menikah, pelukan telah menjadi satu
kebiasaan dalam hari-hari kami. Hal pertama yang saya lakukan ketika tiba
di rumah sepulang dari kantor atau dari bepergian adalah memeluk suami.
Memeluknya erat-erat. Itu saja. Tak Lebih. Hal pertama yang saya inginkan
ketika saya bangun dari tidur adalah memeluk dan dipeluk suami saya.
Memeluknya kuat-kuat. Itu saja.

Bukan yang lainnya. Jika kami bangun pada jeda waktu yang tak sama, maka
‘utang’ kebiasaan itu dilakukan setelah shalat lail atau shalat subuh. Jika
kami tidur di kamar yang berbeda, biasanya jelang subuh atau habis shubuh,
salah satu dari kami akan menyusul yang lainnya. Hanya untuk satu hal saja:
memeluk dan dipeluk.

Saat malam menjelang tidur, kami terbiasa tiduran dan saling memeluk,
berlama-lama sambil berbincang tentang aktifitas kami seharian. Ada
kata-kata yang minimal tiga kali sehari saya ucapkan kepada suami saya, “I
Love U” dan “Minta peluk!” Rasanya ada yang kurang jika kekurangan pelukan
dalam sehari. Pelukan memberiku rasa aman dan nyaman. Pelukan, saya rasakan
memberikan kehangatan yang tak tergantikan oleh apapun.

****

Berdasarkan hasil penelitian, kita butuh empat kali pelukan per hari untuk
bertahan hidup, delapan supaya tetap sehat, dan dua belas kali untuk
pertumbuhan. Jika ingin terus tumbuh, kita butuh dua belas pelukan per
hari. Pelukan berkhasiat menyehatkan tubuh. Pelukan merangsang kekebalan
tubuh kita. Pelukan membuat kita merasa istimewa. Pelukan memanjakan sifat
kekanak-kanakan yang ada dalam diri kita. Pelukan membuat kita lebih merasa
akrab dengan keluarga dan teman-teman.

Riset membuktikan bahwa pelukan dapat menyembuhkan masalah fisik dan
emosional yang dihadapi manusia di zaman serba stainless steel dan wireless
ini. Bukan hanya itu saja, para ahli mengemukakan bahwa pelukan bisa
membuat kita panjang umur, melindungi dari penyakit, mengatasi stress dan
depresi, mempererat hubungan keluarga dan membantu tidur nyenyak. (The
Aladdin Factor, Jack Canfield & Mark Victor Hansen.”)

Helen Colton, penulis buku The Joy of Touching juga menemukan bahwa ketika
seseorang disentuh, hemoglobin dalam darah meningkat hingga suplai oksigen
ke jantung dan otak lebih lancar, badan menjadi lebih sehat dan mempercepat
proses penyembuhan. Maka bisa dikatakan bahwa pelukan bisa menyembuhkan
penyakit “hati” dan merangsang hasrat hidup seseorang.

Berdasarkan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh jurnal Psychosomatic
Medicine, pelukan hangat dapat melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan
dengan perasaan cinta dan kedamaian. Hormon tersebut akan menekan hormon
penyebab stres yang awalnya mendekam di tubuh.

Hasil hasil penelitian tersebut, memberikan keterangan ilmiah atas
kecenderungan dalam diri setiap manusia untuk mendapatkan ketenangan dan
kehangatan melalui pelukan. Penelitan tersebut memberikan fakta ilmiah atas
besarnya energi yang dapat disalurkan melalui pelukan.

Sayangnya, banyak dari kita dibesarkan dalam rumah yang di dalamnya pelukan
adalah sesuatu yang tidak lazim, dan kita mungkin merasa tidak nyaman minta
dipeluk dan memeluk. Kita mungkin pernah digoda sebagai “si anak manja”
jika sering memeluk atau dipeluk Ayah, Ibu atau saudara kandung kita. Dan
jadilah kita atau remaja-remaja kita saat ini, tumbuh dengan kekurangan
energi pelukan.

Bisa jadi, kekurangan energi pelukan ini adalah termasuk salah satu faktor
yang menyebabkan maraknya kasus ketidakstabilan emosi manusia seperti yang
terjadi belakangan ini: tingginya angka kriminalitas dan narkoba pada
golongan anak dan remaja, kesurupan di berbagai sekolah dan sebagainya.

Dan bisa jadi, sesungguhnya solusi untuk mengurangi berbagai permasalahan
itu sebenarnya sederhana saja: Pemberian pelukan kasih sayang yang banyak
kepada anak-anak dari orang tuanya. Bukankah Rasulullah sangat gemar
memeluk isteri, anak, cucu, dan bahkan anak-anak kecil di lingkungannya
dengan pelukan kasih sayang? Bahkan pernah ada satu kisah ketika Rasulullah
mencium dan memeluk cucunya, seorang sahabat menyatakan bahwa hingga ia
punya 10 orang anak, tak satu pun yang pernah ia curahi dengan peluk cium.

Rasulullah saat itu berkomentar, “Sungguh orang yang tidak mau menyayang
(sesamanya), maka dia tidak akan disayang.” (riwayat Al-Bukhari)

Rasanya, sudah sangat cukup alasan bagi saya, untuk mencurahi anak saya
nanti dengan pelukan kasih sayang. Insya Allah!


Responses

  1. hug me;🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: