Oleh: hendryfikri | Mei 23, 2009

Belajar dari Roti dan Semut

Belajar dari Roti dan Semut

dari Republika………

Banyak pelajaran berharga, justru datang dari hal-hal
yang remeh. Ustadz Yusuf Manshur, Pimpinan Pengajian
Wisata Hati justru belajar ilmu sedekah, yang kini
menjadi spesialisasinya, dari roti dan semut. Dan,
‘laboratorium’ tempatnya berguru adalah lembaga
pemasyarakatan.

Ustadz muda ini memang pernah dibui. Urusan bisnis
menyeretnya pada kasus pidana hampir 8 tahun silam. Ia
masuk bui tahun 1998 selama dua bulan.

Di balik jeruji penjara inilah, ia menyadari harta
ternyata tidak mampu menyelamatkannya, bahkan untuk
urusan dunia saja, ketika ia membutuhkannya, ia tidak
punya. ”Banyak orang mencari-mencari, begitu mau
menikmati nggak ada. Akhirnya saya sadar, bahwa fungsi
sedekah yang paling utama kalau orang mengerti,
menyelamatkan dia di dunia dan akhirat,” ujar
penggagas sinetron Maha Kasih yang berhasil
mengantongi rating tertinggi ini.

Suatu hari di penjara, dalam kondisi lapar — hari itu
entah kenapa cadongan (jatah nasi) tidak datang — ia
teringat mempunyai sepotong roti. Namun saat hendak
disantap, ia melihat semut berbaris di dinding selnya,
mencari makan.

”Tuhan elu sama dengan Tuhan gue. Begini dah, kalau
gue berdoa tidak bakal terkabul karena dosa gue
banyak, tapi, kalau elu pada yang berdoa barangkali
terkabul. Nih, elu makan roti, tapi doakan gue bisa
makan nasi. Perut lapar, nih,” ia menirukan lagi
ucapannya saat itu.

Yusuf pun meletakkan roti dekat semut dan
membelakangi. Begitu, ia tengok kembali ke arah semut,
roti pun ternyata sudah ludes. Anehnya, ujar Yusuf,
mestinya semut berjalan lurus tapi saat itu ia melihat
keajaiban, semut menuju ke bawah seperti ingin
mendatanginya. ”Rupanya ada sesuatu yang ingin Allah
ajarkan kepada saya. Nggak sampai sepuluh menit saya
mendapat nasi bungkus dari rumah makan Padang,”
ujarnya.

Dari kejadian itu ia menyimpulkan, sedekah ini sangat
istimewa.” Saya penasaran dan mencari hadis-hadis
qudsi yang ajaib seperti,” ujarnya. Ia juga mulai
gemar mengamati keutamaan berbagi. Perlahan, sisi
spiritualnya kembali terasah. Di penjara pula ia
menjadi seorang hafidz (penghafal Alquran).

Yusuf mengaku banyak mengambil hikmah dari kejadian
masa lalu. Ia tidak pernah menyesali diri karena masuk
bui. ”Dulu memang sempat berpikir, ‘Ngapain malah
jadi saya yang dipenjara?’, Tapi saya berpikir positif
saja, pasti akan ada hikmah yang bisa dipetik,”
lanjut bekas qori cilik nasional ini.

Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Quran Bulak Santri
Tangerang ini mengaku mendalami Islam pertama kali
saat menjadi ‘santri sembunyi-sembunyi’ di Pondok
Pesantren Darunnajah, Jakarta Selatan. Maksudnya, ia
tidak terdaftar sebagai santri, namun turut belajar di
perantren itu.

Lepas dari madrasah tsanawiyah, ia masuk ke Madrasah
Aliyah Negeri 1 Grogol Jakarta Barat. Tahun 1992 ia
lulus sebagai siswa terbaik, dan melanjutkan ke IAIN,
kini Universitas Islam Negeri Jakarta.

Keluar dari penjara tahun 1999, ia bertemu seorang
ulama lokal bernama Ustadz Basyuni. ”Ada seorang
haji, orang Sunda tapi punya rumah makan Padang di
Terminal Kalideres. Mau nggak kamu mengajar di
terminal itu setiap malam Rabu bersama dia?” ia
menirukan.

Yusuf menerima tawaran itu. Jamaah pengajiannya
sebagian besar adalah orang-orang yang mencari makan
di sekitar terminal itu. ”Ada preman, calo, bekas
pembunuh, bahkan ada yang pernah memerkosa mertuanya.
Namun hidayah Allah itu kan untuk siapa saja.”

Sebelum mengajar mengaji, ia berjualan es kacang
hijau. Modalnya saat itu hanya Rp 15 ribu, pemberian
seorang kerabatnya sesaat seteleh keluar dari penjara.

Hari pertama berjualan, dari 75 kantong plastik yang
harganya Rp 500, cuma laku lima bungkus. ”Hari itu
saya hanya mojok saja merenungi nasib,” ujarnya.

Sisa dagangan yang 70 bungkus itu ia awetkan dengan
bongkahan balok es seharga Rp 1.500 yang uangnya
diperoleh dengan berhutang. Ia sempat menangis. ”Ya
Allah, masak saya sampai ngutang Rp 1.500.”

Ia lalu teringat teori semut-roti di penjara. Paginya,
ia membagikan lima bungkus es secara cuma-cuma kepada
pengemis di terminal itu. Tak disangka, tanpa perlu
naik-turun bus Jakarta-Merak untuk menawarkan,
dagangannya laku keras.

”Ini pelajaran kedua bagi saya: sedekah itu harus di
depan, jangan di belakang atau nunggu sisa,”
jelasnya. Menurut dia, kalau sedekah dilakukan di
depan, maka sama artinya dengan mengundang kekuasaan
Tuhan untuk turut andil.

Kini Yusuf Manshur lebih dikenal sebagai dai dengan
konsep Pengajian Wisata Hati-nya. Jamaahnya tersebar
di 11 provinsi dan di masjid-masjid perkantoran di
Jakarta. Tiap akhir pekan, pesantrennya dipadati
jamaah korporat untuk mengaji.

Konsep sedekah pula yang menyeretnya masuk dunia
sinema elektronik (sinetron). Melalui Maha Kasih yang
digarap Wisata Hati bersama SinemArt, ia menyerukan
keutamaan sedekah melalui tayangan yang didasarkan
pada kisah nyata. Sejumlah artis turut mendukungnya,
antara lain Marsyanda, Dessy Ratnasary, Tora Sudiro,
Ririn, Nabila Syaqieb, Didi Petet, Syarul Gunawan, dan
Paramitha Rusyadi.

Menurut dia, sedekah adalah salah satu upaya untuk
menyelematkan bangsa dari keterpurukan dan
kebangkrutan. Ia mencanangkan slogan ‘selamatkan
Bangsa dengan sedekah’ untuk membuka tahun 2006.
”Sedekah dapat mengubah maqam dari yang tadinya
miskin menjadi kaya, kaya menjadi mulia, sakit menjadi
sehat, dan sehat menjadi terjaga,” tutur Yusuf
Manshur optimis.


Responses

  1. tausiah yang sangat berharga
    terima kasih

    • sama-sama. Jangan lupa sedekahnya yah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: