Oleh: hendryfikri | Mei 23, 2009

Malaikat di Kelas Kami

MALAIKAT DI KELAS KAMI

Kisah ini kudapatkan dari lingkaran cahayaku tiap pekan. Tentang seorang
anak “malaikat” yang luar biasa. Murabbiku mulai bercerita dengan
gayanya yang khas. Tentang anak sepasang aktivis da’wah. Alkisah sang
Umi dan Abi mendidik anaknya begitu baik, dalam bi’ah yang teramat
kondusif. Waktu-waktu sang mujahid kecil lebih banyak dimanfaatkan untuk
hal-hal yang bermanfaat di dalam rumah, berinteraksi intens dengan
al-Qur’an, menjauhi berbagai media hiburan apapun. Subhanallah, dia
bagaikan cahaya dalam rumah itu. Begitu sholehnya. Lisannya tak banyak
bicara, pandangannya pun terjaga. Umi mengelus dadanya lega, Ya Rabb
alhamdulillah kau berikan qurata a’yun bagi kami. Waktu terus bergulir,
anaknya beranjak remaja. Dia kelas satu SMP saat ini. Tapi tidak di
SMP-IT seperti waktu SDnya. Jundi kecilnya masuk sebuah SMP favorit di
kota tempat tinggalnya. Umi dan Abi yakin mujahid kecilnya bisa menjaga
diri. Dia sudah kuat untuk membentengi dirinya
dari berbagai pengaruh luar yang

mungkin menggoda imannya.

Aku tersenyum mendengar kisah ini, tapi…..tunggu sebentar ukh, ceritanya
belum berakhir. Hingga satu waktu,sang Umi mengikuti acara rapat orang
tua murid kelas mujahid kecilnya. Seorang ibu yang duduk disebelahnya
mengajaknya bicara. “ Anak ibu siapa?” Sang Umi menjawab dengan
kebanggaan yang tak kuasa disembunyikan, entahlah, mengingat mujahid
kecilnya terkadang membuatnya sangat bangga. “ Faris, bu.Anak ibu?” “
Oh…faris, yang malaikat kecil itu ya?” Umi terhenyak, malaikat kecil???
Ibu tersebut merasakan kekagetan Umi, buru-buru dijelaskannya,” Iya,
anak saya Doni sering cerita tentang Faris. Dia bilang ada malaikat
dikelasku bu. Anaknya alim banget. Begitu sampai kekelas dia langsung
duduk dan membuka Al-Qur’annya. Kalau belum bel, ga berhenti baca Qur’an
bu. Keren kan. Trus istirahat, dia lebih banyak baca buku-buku Islam. Ga
pernah maen kartu bareng aa, bororaah maen smack down-smack downan, maen
games aja ga pernah. Pokoknya
cool abiz. Trus ma anak perempuan japan

banget deh Bu. Katanya si Doni japan itu jaga pandangan Bu. Jarang banyak
bicara, waktunya terisi dengan sempurna. Makanya anak saya dan
teman-teman sekelasnya menyebut Faris, malaikat di kelasnya. Begitu
terjaga, hingga teman-temannya segan untuk sekedar berbicara dengannya.
Apalagi curhat atau ngajakin maen. Akhirnya Faris sering tampak kesepian
dan sendiri. Soalnya Doni bilang, ga enak atuh bu, Doni mah malu and
minder sama dia teh. Trus Faris juga da ga pernah cerita apa-apa, ngobrol
aja jarang Bu. Padahal ya Bu, aa teh kagum sama dia. Pengen jadi kaya
Faris, tapi aa tetep pengen gaul juga. Ga mungkin ya Bu? Aa jadi
malaikat? Kelaut aja kali ya Bu.” Ibunya Doni terus berbicara. Sepertinya
memang sudah bawaan dari orok hobi bicarannya itu. Umi masih
terkaget-kaget. Rasanya seperti tersambar petir di siang hari.Beruntung,
rapat itu segera berakhir. Umi segera mencari tempat wudhu dan bergegas
menuju mesjid. Matanya mulai memerah. Ya Rabb, apakah yang salah? Ia dan

suaminya tidak pernah sedikitpun meniatkan anaknya menjadi sosok yang
seperti itu. Meski ia faham ghuroba adalah hal yang mungkin terjadi pada
seorang da’i. Umi mulai sesegukan, diambilnya Al-Qur’an dan mulai
dibacanya untuk menenangkan diri. Sayup-sayup dari lantai bawah mesjid
sekolah, didengarnya suara tilawah yang teramat dikenalnya.

Umi mengintip dari pagar lantai atas. Mujahid kecilnya sedang asyik
dalam tilawahnya, sendirian di mesjid yang besar ini. Umi mulai
mengevaluasi diri, meski rasanya ingin segera ketemu abi dan
menceritakan semua ini. Ada satu fase yang terlupakan dalam pola
pembinaan keduanya. Bahwa tarbiyah membangun potensi anak sesuai dengan
fitrahnya. Sesuai dengan usianya. Umi menyadari ia telah membentengi
Faris dengan sistem imun yang kuat, tapi umi jarang mengingatkan Faris
untuk menjadi kader yang muntijah ( produktif ). Yang kebaikannya
menyebar pada orang lain, yang kehadirannya memberi manfaat bagi
sekitarnya, yang kesholehannya menjadi kesholehan jama’I, bukan hanya
kesholehan pribadi, dan yang menjadi manusia-manusia luar biasa dengan
kemampuan komunikasi da’wah yang luar biasa. Bukan jamaah malaikat, tapi
jamaah manusia. Dihapusnya air matanya. Ada PR baru yang sangat besar
untuk ia syurokan dengan Abinya. Bagaimana mengajarkan mujahid kecilnya
berbaur tapi tidak lebur.

Menjadikannya lebih mudah dijangkau oleh sekitarnya, mengajarkannya lebih
banyak berbicara dalam rangkaian da’wah fardiyah dan mengajak sebanyak
mungkin orang menuju surga Allah. Menjadikannya seorang remaja yang
memang melewati berbagai fase perjalanan kehidupannya seiring fitrahnya.
Mungkin satu waktu dia mengecengi seorang anak perempuan, mungkin satu
waktu dia sangat ingin bermain games, atau menonton bersama
teman-temannya. Umi tak ingin anaknya hanya bisa bersahabat dengan satu
komunitas yang baik saja, umi ingin anaknya jadi kader tangguh yang mampu
taklukan berbagai medan da’wah amah. Memiliki jaringan ukhuwah yang luas.
Hamasahnya menggelora, ditatapnya mujahid kecilnya dari kejauhan. Sebuah
kata terlontar dari bibirnya, Allahumaghfirlii, ya Rabb maafkan hamba.
Anakku sayang, maafkan umi dan abi.

Aku ikut terhenyak. Entahlah, ada banyak rasa yang muncul dari hati ini
mendengar kisah Faris. Sekejap, aku seolah berhadapan dengan
binaan-binaanku. Bidadari-bidadari kecilku. Ya Rabb, sudahkah aku
membina mereka dengan benar? Membangun potensi dan fitrah mereka dengan
baik? Menjadikan mereka tetap dalam fitrah anak-anak seusianya, meski
dengan nilai plus yang luar biasa dari sisi dien mereka. Sekelebat
ketakutan menghampiriku, sungguh aku harus lebih banyak belajar lagi
tentang sasaran da’wahku. Memperhatikan psikologi perkembangan mereka.
Menemani mereka melalui masa labil mereka sebagai seorang remaja. Da’wah
sekolah SMP ini adalah sebuah fase awal perjalanan panjang da’wah
thullaby. Aku tak ingin jundi-jundi kesayanganku hanya bertahan dalam
jangka waktu yang singkat. Mereka harus lebih kuat bertahan dan bernafas
panjang untuk istiqomah di jalan Al Haq ini.Aku tak ingin melahirkan
traumatis-traumatis pembinaan Islam dalam diri mereka. Aku
ingin mereka menjadi sosok

yang merasakan indahnya Islam, kasih sayang dari mentor-mentornya, dan
peningkatan kapasitas diri mereka sesuai fitrahnya. Aku ingin membawa
mereka menjadi bagian jamaah manusia, bukan jamaah malaikat. Mereka
adalah remaja, kita tak mungkin menghapus fitrah mereka, kita hanya bisa
membantu mereka mengendalikannya, menemani mereka melalui masa-masa
sulitnya. Menjawab setiap pertanyaan mereka dengan kesabaran luar biasa.
Dan terutama menjadikan mereka yang terbaik dari diri mereka sendiri.
Tidak akan ada azsya-azsya kecil, yang begitu mirip dengan ku. Yang ada
adalah mujahidah-mujahidah kecil dengan segala kekhasan dan potensi luar
biasa
dari diri mereka sendiri.

Kisah ini memulai evaluasi dan refleksi yang sangat panjang dari diriku
selama hampir 9 tahun aku malang melintang di DS ini. Perbaikan pola
pembinaan adalah suatu keniscayaan yang terus diupayakan. Untuk membina
seorang kader muntijah, melalui fase yang tepat, membangun fitrah dan
potensi yang hadir dalam dirinya.Untuk menjadi satu kekuatan da’wah bagi
umat ini. Azzam baru bergelora dihatiku, karena aku adalah walid ( umi
mereka di sekolah ), aku adalah syeik ( ustazah mereka di mentoring ),
aku adalah qiyadah ( pemimpin mereka di DS ), dan terutama karena aku
adalah sahabat mereka. Meski usiaku yang terpaut jauh dengan mereka. Asa
ini takkan pernah hilang, menjadikan mereka amanah terbaik yang Allah
titipkan padaku. Menjadi umi, ustadzah, qiyadah, dan sahabat terbaik
bidadari-bidadari kecilku. Allahu Akbar !

Azsya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: