Oleh: hendryfikri | Mei 23, 2009

Sholat Ayam

Dari milis Sebelah..

Aku ingat beberapa penggal masa kecilku dulu. Masa-masa di sekolah
dasar. Mulai sekitar kelas tiga SD, aku udah membiasakan diri untuk
sholat, sebelum itu sebenarnya aku udah sering sholat sih, tapi waktu
itu masih tergantung mood dan paksaan dari ortu.

Aku gak tahu parameter apa yang dipake oleh orang dewasa untuk menilai
sholat seseorang. Mereka bilang sholatku sangat cepat. Aku pikir, aku
telah melakukan gerakan sholatku dengan cukup standar, setidaknya
untuk standar anak-anak. Meski bacaanku cepat, tapi Al-Fatihahku gak
terlewat satu ayat pun. Bacaan tasbih dalam ruku’ dan sujud kubaca
tiga kali, meskipun dalam ritme yang sama, cukup cepat. Pernah aku
sedikit memperlambat kecepatan bacaanku dan gerakanku. Dan setelah
sholat, aku masih mendapati komentar yang sama dari seorang bapak di
sebelahku, “ekspress betul sholatnya….”

Sebenarnya aku gak punya kebiasaan memperhatikan sholat seseorang.
Tapi semenjak di bangku kuliah, aku begitu sering berinteraksi dengan
sholat orang lain, maskudku aku sering menjadi makmum (aku membiasakan
sholat berjamaah semenjak aku kuliah), aku sering menjadi imam di
musholla asrama, aku sering berada di musholla dan masjid yang
jamaahnya padat (musholla asrama dan masjid kampus okupansi jamaahnya
tinggi juga), dan sebagainya.
Bukan karena dendam kalo aku memperhatikan durasi sholat seseorang.
Tapi aku sangat heran dengan mereka yang sholatnya sangat cepat.
Kadang aku perhatikan seeorang yang sholat sangat cepat. Kucoba
mengikuti bacaannya dengan ritmeku yang paling cepat, dan ternyata
sebelum aku menyelesaikan Fatihahku, orang itu udah ruku’. Aneh.
Kucoba untuk mengikuti bacaan tasbih ruku’ orang itu, dan sebelum aku
menyelesaikan tasbih pertama atau kedua, orang itu udah bangkit
I’tidal. Orang ini sholatnya baca apa sih? Pun demikian ketika aku
mencoba mengikuti bacaan lainnya, dengan ritme tercepat yang kubisa.
Ritme yang aku pake untuk mengejar bacaan orang itu sama dengan atau
bahkan lebih cepat dari ritmeku pada masa kanak-kanak dulu.

Orang itu tetap menang dariku.

Orang itu orang dewasa. Dan mereka bukan hanya satu orang. Salah satu
yang
kutemui bahkan punya background institusi pendidikan keagamaan
yang sangat populer, dan secara pribadi dia dikaruniai Allah otak yang
cemerlang. Cum Laude, Jack.
Kata temanku seperti burung pelatuk. Ruku dan sujud begitu cepat.
Tuk…tuk..tuk.

Trus, napa sih sok merhatiin orang? Itu kan urusan dia.

Dalam rukun dan syarat sah sholat emang gak diatur berapa raka’at per
menit kecepatan minimal sholat yang sah. Tapi setahuku ada yang
namanya thuma’ninah, berhenti sebentar setelah bacaan di waktu ruku’,
i’tidal dan beberapa tempat lain. Selain itu, bahasa Arab mirip-mirip
bahasa Jepang. Kata-kata dengan bacaan panjang bisa berbeda artinya
dengan kata dengan bacaan pendek. Aku rasa negosiator, orator dan
pakar debat dari arab yang sering ngomong cepat juga faham tentang hal
itu.
Ya emang urusan dia sih. Cuma rasanya aneh aja.
Nah kalo misalkan dia itu public figure, jadi tambah repot deh. Yah,
moga aja gak ada yang menjadikan cara sholatnya sebagai teladan.
Yah, udahlah. Semoga Allah senantiasa menerima sholat kita sebagai
investasi di akhirat. Dan…kondisi item investasi harus bagus dong.
……
…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: