Oleh: hendryfikri | Mei 25, 2009

Ketika Ikhwah Tersenyum

Pengantar

Salah satu dari tiga alasan seorang Umar bin Khottob memilih untuk
tetap eksis hidup di dunia ini adalah : Keindahan ukhuwah. Dua yang
lainnya adalah kenikmatan qiyamul lail dan jihad fi sabilillah.
Beruntung dan bersyukurlah bagi setiap kita, para aktifis dakwah, yang
hari-harinya dipenuhi dengan keindahan ukhuwah. Keindahan ukhuwah yang
sedemikian agung. Terwujud dari yang paling rendah : salamatus shadr
(lapang dada),
sampai pada tahapan tertinggi : itsar (mendahulukan saudaranya dari
diri (sendiri).

Adalah sebuah fenomena riil, jika kita lihat kehidupan sehari-hari
para aktifis dakwah. Maka akan kita temukan sekelompok manusia, atau
sebuah komunitas yang cenderung lebih ceria, akrab, energik dan
elegan. Jauh dari kesan kaku, kolot, galak dan beku! Diantara sekian
keceriaan dan keakraban itu, muncullah anekdot-anekdot lucu atau
pemaparan kisah-kisah unik yang menghangatkan ukhuwah diantara mereka.

Tulisan ini, adalah kumpulan anekdot dan kisah-kisah unik yang pernah
penulis dengar, atau penulis alami sendiri dalam masa-masa interaksi
bersama para aktifis dakwah tersebut. Apapun, harapan agung penulis
menyusun ini adalah untuk menghangatkan ukhuwah di antara kita. Agar
kembali ceria wajah-wajah kita. Agar lebih tulus senyum dan sapaan
kita.

Agar kita lebih siap menyambut pekerjaan-pekerjaan berat lainnya.
Karena agenda dan proyek-proyek kita, jauh lebih padat dari jatah usia
masing-masing dari kita. Wallahu’alam bisshowab. Selamat menikmati dan
selamat meneruskan proyek-proyek dakwah antum!

Kumpulan Anekdot dan Kisah-Kisah Unik Aktifis Dakwah

1. Bughot di demo Gus Dur

Pada pertengahan tahun 2001 yang lalu, Jakarta kembali dimarakkan oleh
demo-demo anti Gus-Dur, baik di Gedung DPR, Bundaran HI maupun
langsung ke Istana merdeka. Banyak elemen masyarakat dan mahasiswa
yang bergabung untuk turun ke jalan dengan membawa berbagai nama. Dan
semakin hari, aksi turun ke jalan ini semakin sering dengan jumlah
yang kian hari kian meningkat. Fenomena seperti ini meresahkan
sebagian kalangan Nadhliyin yang menganggap Gus Dur sebagai perwakilan
dan lambang identitas dari NU. Yang terjadi kemudian adalah munculnya
wacana bughot (istilah fikih untuk pemberontakan pada pemerintahan
islam yang sah) dari sebagian ulama NU yang dituduhkan pada mereka
yang melakukan aksi demo tersebut.

Wacana yang disertai tuduhan ini pun berkembang dimana-mana, dari
mulai siaran TV, media massa sampai diskusi pembahasan fikih. Oleh
para ikhwan, yang memang paling aktif dalam melakukan demonstrasi ini,
tuduhan tersebut dijawab dengan enteng dengan sebuah senyuman, ”
memang kita akui, bahwa sebagian besar dari kami adalah benar-benar
seorang bughot, ya.. Bujangan berjenggot ! ”

2. Pedagang Asongan pun tahu

Masih tentang demo anti Gus Dur, maraknya tuduhan bughot pada para
demonstran membuat banyak masyarakat bertanya-tanya, siapa sebenarnya
dan darimana datangnya para demonstran yang kian hari kian banyak
dengan berbagai nama organisasi baru, selain organisasi yang jelas dan
sudah lama eksis seperti KAMMI dan BEM SI. Tapi kebingungan seperti
ini tidak melanda para pedagang asongan di sekitar bundaran HI dan
istana merdeka.

Mereka dengan jelas tahu persis siapa dibalik demo-demo ini. Seorang
wartawan mencoba bertanya pada salah satu dari mereka.

” Anda tahu siapa sebenarnya dan darimana datangnya para peserta demo ini ?”

” Jelas kami tahu, mereka adalah orang-orang semacam KAMMI dan yang sejenis
itulah pokokmya ..! ”

“Tapi, darimana anda tahu ? ”

” Jelas kali, setiap kali mereka demo kami selalu dilanda kerugian,
karena tak satupun dari peserta demo yang membeli rokok dari kami, dan
hal ini tidak pernah kami alami, selain di demo yang dilakukan
orang-orang KAMMI dan sejenis itu .”

” Oooo.. pantesan ..”

3. Menentukan Hari Demo

Dalam situasi genting dengan perkembangan peta politik yang demikian
cepat membuat setiap ikhwah harus siap siaga. Kapan pun dan dimanapun
ada panggilan, mereka harus segera berangkat untuk ikut turun ke
jalan, bahkan mungkin dengan persiapan seadanya. Ada cerita, seorang
ikhwah semalaman sudah belajar karena ada ujian (kuis) esok harinya,
tapi setelah subuh mendadak ada telpon panggilan demo. Akhirnya ujian
pun ditinggalkan untuk menunaikan tugas tersebut. Inilah susahnya bagi
para perancang demo, untuk menentukan jam dan hari demo yang tepat
agar banyak peserta yang datang dan ikut Karena jika tidak, jumlah
peserta yang sedikit akan melemahkan semangat peserta demo dan
mengurangi kekuatan pressure mereka.

Ada satu keunikan bahwa di Jakarta demo paling sering dilakukan hari
Jumat setelah Jumatan, biasanya kumpul di Al Azhar. Dan yang paling
jarang bahkan tidak pernah dilakukan adalah pada hari Sabtu. Salah
seorang penggerak demo ditanya masalah ini dan mengatakan, bahwa
pernah dilaksanakan pada hari Sabtu, tapi ternyata pesertanya sangat
sedikit sehingga menjadi kurang efektif. Ketika ditanya ada apa dengan
hari sabtu, beliau menjawab, ” Hari sabtu itu hari liqo’ nasional,
kebanyakan ikhwah kita jadwal ‘ngajinya’ hari Sabtu, jadi demo boleh
jalan, tapi ngaji juga tetap jalan terus..jangan sampai terganggu
demo..”

4. Lagu-Lagu Demo

Masih tentang demo. Demonstrasi yang dilakukan para ikhwah pertengahan
2001 yang lalu memang agak unik. Dengan alasan pertimbangan keamanan,
dalam demonstrasi para ikhwah di larang memperlihatkan segala atribut
ataupun ciri keikhwahan. bahkan dianjurkan untuk tampil unik, gaul
ataupun sedikit preman. Maka jangan heran kalau banyak di temui
sosok-sosok ustad yang berpakaian sporty dan gaul. Dan keunikan pun
muncul pada lagu-lagu yang ditampilkan. Kalau biasanya adalah
lagu-lagu demo penuh nuansa perjuangan, maka pada kali ini banyak
dipakai lagu-lagu jahiliyah yang diplesetkan. Ada lagunya Zamrud,
Sheila On Seven, lagu dangdut sampai lagu Doraemon pun ikut
diplesetkan. Entah darimana mendadak ikhwah kita hafal dan fasih dalam
melantunkan
lagu-lagu seperti ini. Tetapi masalahnya tidak berhenti di sini.
Karena di saat yang sama, sebagaimana diceritakan oleh salah seorang
al akh, bahwa dia pernah menjumpai sebuah demo tandingan yang
dilakukan oleh Forkot dan elemen kiri lainnya. Ternyata dalam demo
tersebut, mereka melantunkan lagu-lagu dengan nada nasyid-nasyid
perjuangan milik Izzatul Islam yang juga diplesetkan !

Benar-benar sebuah gambaran pertarungan yang menyeluruh, sampai lagu
demo pun ikut saingan !

5. Sebab Ketegangan

Peristiwa 11 September 2001 membuat perhatian dunia tertuju pada
Amerika dan Afghanistan. Serangan membabi buta yang dilakukan Amerika
mengundang reaksi keras dari seluruh muslim sedunia. Sedikitnya ada 2
negara besar yaitu Pakistan dan Indonesia, yang penduduknya merespon
dengan demonstrasi yang besar-besaran dan tidak henti-hentinya.Di
Indonesia, demonstrasi dilakukan oleh hampir semua elemen muslimin
seperti GPI, FPI, FIS dan tak ketinggalan juga para ikhwah. Suatu
demonstrasi dilakukan oleh sebagian ikhwah yang tergabung dalam KAMMI
pada sekitar awal Oktober di depan gedung DPR/MPR. Ketegangan pun
terjadi karena tuntutan untuk masuk tidak digubris oleh pihak
keamanan, yang boleh masuk hanya perwakilan, padahal tentu semua tahu
bahwa gedung itu adalah milik rakyat sendiri. Maka sebagian ikhwahpun
yang sudah lama tidak berolahraga pun tergerak untuk menakut-nakuti
polisi dengan menggerak-gerakan pintu masuk. Situasipun semakin panas
karena, polisi sabhara pun tak membiarkan mereka masuk. Maka
dorong-mendorong sangat dasyhat pun tak terelakkan, dan ketegangan pun
terjadi dalam waktu yang cukup lama, namun pintu tetap tak terbuka.
Sebagian ikhwah pun terus mencoba berunding, bahwa mereka akan masuk
untuk ambil wudhu dan sholat Ashar saja, karena waktu ashar sudah
tiba. Permintaan seperti inipun
tetap tak digubris, akhirnya dengan nada putus asa seorang ikhwah
dengan logat betawi berseru lantang, ” Susah ..! polisinya kagak
‘ngaji’ sih, jadi kagak bakalan ngerti.coba kalo polisinya ikut
‘ngaji’ ..dari tadi pasti pintunya udah dibuka !” Sebagian ikhwah yang
ikut mendengar tersenyum simpul dan membenarkan dalam hati.

6. KAMMI Ganti Nama

Setiap kali Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berdemo
dan melakukan long march, maka yang akan banyak terlihat adalah
barisan putih panjang yang terdiri dari para ABG ( Akhwat Berjilbab
Gede) , yang dikelilingi oleh sedikit ikhwan sebagai boarders. Dari
sini jelas terlihat bagaimana perbandingan jumlah ikhwan dan akhwat
yang terlampau
mencolok. Dan repotnya hal seperti berlangsung terus di demo-demo yang
lain. Yang akhirnya membikin ciri khas khusus bagi demonstrasi yang
dilakukan KAMMI, yang seolah-olah menggambarkan bahwa KAMMI hanya
milik para akhwat. Akhirnya muncul usulan dari para ikhwan untuk
mengganti nama KAMMI menjadi KAMMMI, karena alasannya sesuai
sejarahnya, pertama kali pada jatuhnya orde baru tahun 1966 ada yang
namanya KAMI dengan satu huruf M, kemudian disusul pada bangkitnya
orde reformasi muncul KAMMI dengan dua huruf M. Maka sesuai
perkembangan terakhir sekarang
dimunculkan KAMMMI dengan tiga huruf M yaitu Kesatuan Aksi Mahasiwa
Muslim Muslimah Indonesia.

7. S-2 dan S-3

Maraknya dakwah di Ibukota sangat mengharukan hati. Di kampus-kampus
umum, sekolah dan masjid-masjid perumahan sering diadakan
kegiatan-kegiatan dakwah yang beraneka ragam. Dari mulai ceramah
biasa, diskusi remaja, pemutaran film, bedah buku, bazaar sampai ke
tabligh akbar, semuanya semakin menambah marak kesejukan suasana
Ibukota yang sudah penuh sesak. Semua ini kemudian diikuti dengan
bertambahnya
kebutuhan akan juru dakwah. Tapi kita tidak perlu khawatir, karena
banyak sekali aktivis dakwah kita yang masih muda, baru S-1 ataupun
masih kuliah yang sudah mendapat gelar Phd dan MBA. Dan ini banyak
kita temukan di kampus-kampus. Gelar Phd ini disematkan bagi mereka
yang benar-benar ‘Pakar Halaqoh dan Dauroh’, sedangkan MBA untuk
‘Murobby Banyak Akal !’ Ini di bidang dakwah, kadang ada juga istilah
lain yang dipakai untuk menyindir sampai dimana ‘proses’ seorang
ikhwan, seperti MBA dari ‘Murobby Belum Acc’ , dan MBM dari ‘Murobby
Baru Mencarikan’, atau kalau sudah selesai prosesnya bisa disebut MBM
juga, yaitu ‘Married By Murobby.!’

Ada juga gelar yang sudah cukup masyhur di kalangan aktivis dakwah
yang di peruntukkan bagi lulusan Timur Tengah ataupun LIPIA, yaitu Lc.
Tapi gelar Lc ini ternyata sekarang banyak dipakai oleh para aktivis
muda kita, tapi yang ini berarti ‘Langsung Ceramah’.Dan kabarnya pula
Xanana Gusmao, Presiden Timor Lorosae juga punya gelar Lc juga, yaitu
‘Lulusan Cipinang’.

8. Berbeda tapi ternyata sama

Seorang Akhi di UNS mendadak harus pulang ke kota kecilnya di belahan
utara pulau Jawa, karena ayahnya dikabarkan masuk rumahsakit. Sebuah
fenomena memang kalau di sebuah kota kecil yang tidak ada kampus
ternamanya biasanya tidak banyak memiliki stock ikhwan ataupun akhwat.
Tapi di rumah sakit, tepatnya di bagian mushollanya, pada waktu itu
dengan firasat ikhwannyanya al-akh ini berhasil menemukan seseorang
yang
‘disangkanya’ seorang ikhwan pula. Tapi keraguan itu membuatnya
bertanya dengan malu-malu, “Assalamualaikum wr wb, Langsung saja Mas..
antum Ikhwan khan ? “. Yang ditanya sempat kaget, lalu tersenyum dan
memjawab, ” Apa? bakwan ! eh..ikhwan ? Maaf bukan mas, saya dulu di JT
tapi sekarang saya mantep di HT, insya Allah , “. Dengan agak malu
karena sok tahu, akh kita ini minta ijin untuk undur diri sambil
menyalahkan firasat ikhwaniyahnya yang gagal kali ini. Tapi sebelum ia
beranjak, orang tadi memanggilnya kembali, ” Afwan Akhi, saya dulu
memang di JT tapi ini Jamaah Tarbiyah bukan
Jamaah Tabligh lho..”

” Terus kenapa sekarang masuk HT ?”

” Iya, dari dulupun saya ikut HT, Halaqoh Tarbiyah ..!”

“Oooo..sama semua ya..ternyata”

9. Nama Lain Ngaji

Pada suatu malam Ahad, seorang Akhi yang baru memulai sejarah
dakwahnya pamit pada temannya se kostnya untuk pergi ‘ngapel’ ke rumah
seorang teman. Teman se-kost itu yang kebetulan juga seniornya sangat
khawatir dengan aktivitas ‘anak baru’ tersebut. Kemudian dengan
diam-diam ia mengikuti langkah sang Akhi tersebut, yang ternyata masuk
ke dalam seorang rumah ustad. Dan setelah ditunggu sekitar dua jam,
akhirnya sang Akhi tersebut keluar dengan wajah penuh keceriaan. Sang
Senior yang sudah penasaran dari tadipun langsung menginterogasinya, ”
katanya ngapel, kok di rumah ustad ? ”

” Ya Mas, yang ini bukan ngapel pacaran, tapi ngapel singkatan dari
‘ngaji pelan-pelan’ alias liqo’ “.

Begitulah, sesuai dengan situasi dan kondisi di suatu tempat
kadang-kadang digunakan bahasa lain untuk lebih menyamarkan atau
mengakrabkan aktivitas yang satu ini. Kalau di lingkungan kampus
biasanya dikenal istilah Mentoring atau Asistensi, Di Yayasan Iqro’
club yang menangani anak-anak STM di Jakarta menyebutnya dengan DSL
(Dakwah
Sistem Langsung), beberapa ikhwan lain menyebutnya dengan istilah ‘Les
Privat’ ataupun ‘kencan mingguan’,dan ada juga yang bikin istilah
keren yang sama dengan sebuah paket acara televisi di Indosiar yaitu
KISS (Kisah tentang Selebritis), tapi KISS yang ini berarti Kajian
Islam Seminggu Sekali, ada juga yang menyebutnya Kajian Islam Sabtu
sore,
Senin Sore, Selasa Sore, atau Sabtu Siang, dan seterusnya.

10. Simatupang dan Situmorang

Dua dari sepuluh karakteristik ideal seorang dai adalah ‘Qowiyyul
Jismi’ dan ‘Harisun ala waqtihi’. Idealnya seorang yang beraktifitas
di jalan dakwah memang harus mempunyai ciri tersebut. Tapi ada cerita
unik, tentang dua orang ikhwan yang kebetulan tinggal satu kamar di
sebuah rumah kost-kostan. Keduanya kuliah di kampus yang sama, jurusan
yang sama, dan kebetulan sama-sama bergabung dalam LDK (Lembaga Dakwah
Kampus ) yang ada di kampusnya. Tapi yang menjadikannya berbeda adalah
dari segi jam terbang dakwahnya.

Sebut saja akhi A, beliau setiap hari hampir jarang ada di kamarnya.
Berangkat pagi hari habis sholat Subuh, kemudian sore pulang sebentar
untuk ngambil sesuatu dan mandi, kemudian pergi lagi dan pulang sampai
larut malam, itupun tidak setiap hari beliau pulang. Belum lagi kalo
pas hari libur atau sedang kosong , tiba-tiba ada panggilan dakwah,
maka
beliau langsung pergi lagi walaupun jarum jam menunjukkan pukul
sebelas malam. Itu cerita tentang si A. Lain lagi dengan temen
sekamarnya si B, beliau paling sering kelihatan di rumahnya, atau
lebih tepatnya di kamarnya, atau lebih pasnya lebih sering kelihatan
tidurnya. Pagi berangkat kuliah sebagaimana biasa, dan siang pulang
kemudian di rumah
terus sampai esoknya lagi, kecuali satu hari saja untuk ‘aktivitas
ngaji’ di rumah seorang ustad. Perbedaan yang sangat frontal ini konon
mendapat perhatian yang cukup serius dari ikhwah lainnya yang tinggal
sekontrakan dengan mereka berdua. Akhirnya, walaupun keduanya bukan
dari tanah Batak, mereka sepakat memberi nama marga di belakang nama
mereka yang satu Simatupang untuk akhi A, yang berarti ‘ Siang-malam
tunggu
panggilan’ karena aktivitas dakwahnya yang begitu padat. Sedangkan
untuk si Akhi B diberi gelar Situmorang, yang berarti ‘ Si ikhwan
tukang molor doang !”

11. JAMES BOND ala ikhwah

Sudah menjadi fenomena umum bagi seorang ikhwah mahasiswa yang kuliah
di kota besar semacam Jakarta, bagaimana sulitnya mencari sebuah kamar
kost yang layak pakai fasilitas lengkap, situasi mendukung untuk
dakwah sekaligus nyaman untuk belajar, deket kampus, dan tentu saja
yang paling murah, istilahnya ‘harga mahasiswa’. Maka beruntunglah,
karena ternyata banyak masjid di Jakarta, yang juga deket dengan
kampus yang menyediakan sebuah tempat khusus bagi satu dua mahasiswa
untuk tinggal di situ
sekaligus ikut berpartisipasi dalam memakmurkan masjid. Maka sebagian
dari mereka ada yang menjadi petugas muadzin, ada pula yang menjadi
imam tetap, ada pula yang mengajar TPA dan mengisi kajian Ibu-Ibu. Dan
alhamdulillah, tidak jarang kemudian Takmir Masjid memberikan uang
kompensasi bulanan sebagai pengganti waktu dan jerih payah mereka.
Tapi meskipun demikian ada juga beberapa mahasiswa lain yang ikut
membantu
kebersihan masjid, dan berfungsi ganda sebagai petugas kebersihan
masjid atau yang biasa dikenal dengan istilah marbot. Mereka – mereka
yang disebutkan tadi, dengan bangga menyebut profesi ini dengan
istilah ‘James Bond’, yang berarti ‘ Jaga Mesjid dan Kebon’ !

12. Nasyid (1)

Sore hari di sebuah rumah kost para ikhwah di bilangan Jurangmangu,
Tangerang. Suasana yang ada diantara para ikhwah yang sedang bersantai
sangat akrab, sampai tiba-tiba seorang akhi yang baru beberapa hari
pindah ke situ, ikut meramaikan suasana dengan bernasyid dari kelompok
Suara Persaudaraan, Malang. Beberapa bait nasyid disambut atau diikuti
para ikhwah yang lain, namun ketika si Akhi ini sampai pada sebuah
bait di sebuah lagu yang ada di album Balada sebuah Dangau , yang
berbunyi.

” Kulihat Bunga di taman. Indah warna-warni dan menawan..”

Mendadak seisi rumah pada ramai, sebagian senior ada yang
memperingatkan langsung pada sang munsyid.

” Bernasyid boleh akhi, tapi jangan langsung menyebut nama seseorang
dong. bisa timbul fitnah nantinya !”

Si anak baru sampai di sini masih belum menyadari kekeliurannya. Usut
punya usut, ternyata di organisasi remaja Masjid dekat perumahan
tersebut ada seorang akhwat aktivis yang namanya juga memang ” Bunga ”
!

13. Nasyid ( 2 )

Plesetan dari lagu ” Aku Anak Sholeh ” nya Harmoni Voice, STT Telkom Bandung.

Aku Ingin Nikah

Dengan Mahar Mudah

Tidak susah- susah

Rukuh dan Sajadah

Istri Solihah..

Harta yang berkah..

Walau ku sudah nikah..

Tetap berdakwah..

14. Nasyid (3 )

Bait-bait Nasyid yang didendangkan oleh Munsyid Izzatul Islam
mempunyai ciri khas perjuangan dan semangat yang menyala-menyala. Tapi
bukan ikhwah namanya kalau tidak punya kreasi lain dengan lagu-lagu
tersebut. Tentu saja tujuannya untuk memprovokasi satu sama lain.
Lihat saja perbandingan lagu asli dan plesetannya di bawah ini, yang
diambil dari album ” Kembali ”

Berkobar tinggi panaskan bumi

Membakar ladang dan rumah kami

Darah syuhada mengalir suburkan negri

Tiada kata lagi. kami harus kembali

Berkobar tinggi panaskan hati

Datang tawaran dari murobby

Foto-foto akhwat ada dihadapan kami

Tiada kata lagi..aku pilih yang ini !

15. Taaruf Unik

Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk
menyempurnakan separuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun
menghubungi ustadnya dan memulai proses dari awal sampai akhirnya tiba
saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya. Tibalah hari
dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, beliau
datang tepat waktu di sebuah tempat yang telah di janjikan ustad.
Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk disebelah murobby, sementara agak
jauh di depannya sang akhwat di temani murobbiyahnya dengan posisi
duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan. Setelah sekian
lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobby berbisik pelan pada
mad’unya yang malu-malu ini,

“Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum ?”

“Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu khan?”

Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. ” Eh..gimana antum
! yang itu istri saya !”

16. Belum Menikah

Memang susah jadi ikhwan bujangan, pasti banyak sindiran dan provokasi
yang datang setiap saat untuk segera menyempurnakan separuh dien ini.
Apalagi jika ia juga berprofesi sebagai seorang murobbi, maka setiap
pertemuan mingguan pasti ada sindiran-sindiran kecil dari para
mad’unya yang rata-rata juga belum menikah. Sebenarnya sang murobbi
ini nggak enak dan takut juga kalau status bujangannya ini menghalangi
anak buahnya untuk segera menikah.

Akhirnya pada suatu kesempatan mingguan, setelah sekian lama para
mad’unya menanyakan masalah yang satu itu, sang murobbipun berpesan
singkat di hadapan para ikwah di hadapannya, ” Ikhwan sekalian, untuk
masalah pernikahan.. jangan jadikan status ana sebagai penghalang
kalian menikah, cukup jadikan saja saya sebagai contoh atau tauladan
..! ”

Para ikhwan yang mendengar pun terbengong-bengong keheranan.


Responses

  1. assalamualaikum….
    sebatas berbagi,,,kenapa saya penasaran dengan blok anda, karena saya penasaran dengan LDK di STT Telkom. Terimakasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: