Oleh: hendryfikri | Juni 3, 2009

Tukang Bakso

Ada kisah menarik dari tetangga sebelah
Sebuah pengajian yang amat khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar,
malam itu, mendadak terganggu oleh suara dari seorang tukang bakso
yang membunyikan piring dengan sendoknya. Pak Ustadz sedang
menerangkan makna khauf, tapi bunyi ting-ting-ting- ting yang
berulang-ulang itu sungguh mengganggu konsentrasi anak-anak muda calon
ulil albab yang pikirannya sedang bekerja keras.

“Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta
bakso!” gerutu seseorang.

“Bukan sekali dua kali ini dia mengacau!” tambah yang lainnya, dan
disambung, “Ya, ya, betul !”

“Jangan marah, ikhwan!” seseorang berusaha meredakan kegelisahan, “Ia
sekadar mencari makan.”

“Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan jangan ia
minan-nashara! ” sebuah suara keras.

Tapi, sebelum takmir masjid bertindak sesuatu, terdengar suara Pak
Ustadz juga mengeras, “Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya.
Manusia belum akan mencapai khaufilallah selama ia masih takut kepada
hal-hal kecil dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa
takut hanya kepadaNya, yang lain-lain menjadi kecil adanya.”

“Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap kekuasaan sebuah rezim
atau peluru militerisme politik. Cobalah berhitung dulu dengan tukang
bakso. Beranikah Anda semua, kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di
mata masyarakat, beranikah Anda menjadi tukang bakso? Anda tidak takut
menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki
rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi. Tapi tidak
takutkah Anda untuk menjadi tukang bakso? Yakni kalau pada suatu saat
kelak pada Anda tak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi
tukang bakso? Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau
tidak? Ingatlah bahwa tak seorang tukang bakso pun pernah takut
menjadi tukang bakso. Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding
tukang bakso? Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga
untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua.”

Suasana menjadi senyap. Suara ting-ting-ting- ting dari jalan di sisi
halaman masjid menusuk-nusuk hati para peserta pengajian.

“Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari,”
Pak Ustadz melanjutkan, “Karena kita masih tergolong orang-orang yang
ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajat rendah,
takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut
tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan
kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat. Masya Allah, sungguh kita
masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan
Allah!”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: