Oleh: hendryfikri | Juni 11, 2009

Mereka Ditembaki Saat Shalat Isya

sumber: http://republika.co.id/koran/0/55430/Mereka_Ditembaki_Saat_Shalat_Isya

Oleh Asro Kamal Rokan

Ketika perhatian kita tertuju pada kampanye calon presiden, melodrama Manohara dan Prita Mulyasari, maka simaklah kebiadaban terhadap Melayu Muslim di selatan Thailand ini: Sebanyak 50 jamaah masjid Narathiwat ditembak saat shalat Isya, Senin (8/6) malam. Sebelas orang tewas, 12 lainnya luka berat dan kini kritis.

Kantor berita AFP, yang dikutip Antara melaporkan, sejumlah orang bersenjata masuk menyerbu melalui pintu belakang dan pintu samping masjid di Distrik Choi-ai-rong. Mereka melepaskan tembakan membabi-buta kepada jamaah yang sedang khusuk shalat Isya. Jamaah berjatuhan. Darah menggenangi masjid suci itu.

Serangan biadab ini memperpanjang deret kematian di wilayah Melayu tersebut sejak penyerangan terburuk lima tahun lalu. Diperkirakan korban lebih dari 3.700 orang. Namun, pemerintah dan militer Thailand justru menuduh kelompok Muslim. Menurut juru bicara militer, Kolonel Parinya Chaidilok, penembakan di masjid untuk memberi kesan bahwa penyerangan dilakukan militer Thailand.

Penyerangan di masjid ini, tiga hari setelah PM Abhisit Vejjajiva membahas strategi pemerintah menghadapi situasi selatan Thailand ini. April lalu, Abhisit memperpanjang keadaan darurat sejak lima tahun lalu. Pemberlakuan keadaan darurat ini dikritik kelompok-kelompok HAM karena memberi wewenang militer melakukan pelanggaran HAM terhadap warga sipil.

Kebiadaban terus berlangsung terhadap etnis Melayu Muslim di wilayah selatan Thailand ini. Pada 2004 lalu, juga di Narathiwat, umat Islam yang sedang puasa Ramadhan ditangkap, diikat, dan ditumpuk dalam truk oleh aparat keamanan. Mereka lemas. Pemerintah menyebutkan 84 orang tewas. Namun, pemantau independen menyebutkan, lebih dari 175 orang tewas mengenaskan. April tahun itu juga, aparat keamanan menyerbu masjid di Pattani, 32 orang tewas.

Penduduk Provinsi Narathiwat, Yala, dan Pattani mayoritas Islam. Mereka nelayan dan petani miskin. Sehari-hari mereka berbahasa Melayu, seperti di Malaysia dan Indonesia.  Sebelum dikuasai Thailand (dahulu Siam), wilayah selatan ini adalah kerajaan-kerajaan Melayu. Pada 1785, Kerajaan Islam Pattani Darussalam–yang pernah menjadi kerajaan Islam termasyhur di Asia Tenggara–diserang Thailand. Sultan Muhammad tewas dalam pertempuran mempertahankan hak dan kedaulatan wilayahnya.

Pada 1902, Siam yang didukung Inggris, menghapuskan secara resmi sistem pemerintahan kesultanan tanpa persetujuan rakyat Melayu. Sejak itu, hak-hak mereka dihilangkan. Tokoh-tokoh Melayu memperjuangkan haknya, namun mereka dibunuh dan dipenjarakan. Masjid-masjid dibakar. Pada 1987, masjid Kerisek yang bersejarah, dibakar tentara Thailand.

Tidak sampai di situ. Bahasa Melayu secara perlahan dihapuskan. Warga diwajibkan hanya menggunakan bahasa Thai. Di sekolah-sekolah–yang mayoritas pelajar Islam–tidak ada pelajaran agama. Pemerintah Thai menolak mengakui bahasa, budaya, dan agama penduduk yang berjumlah lebih dari 5 juta jiwa itu.

Januari 2009 lalu, Amnesti Internasional (AI) melaporkan berbagai kasus penganiayaan sistematis pasukan Thailand terhadap warga Melayu Muslim. AI menemukan 34 kasus penganiayaan. Kasus itu, antara lain, warga dikubur dalam tanah hingga batas leher, disiksa dengan arus listrik, serta mata dan bagian tubuh mereka ditusuk. Beberapa orang tewas dalam penyiksaan brutal tersebut.

Pasukan Thailand juga, menurut AI, mendirikan pusat-pusat tahanan. Di sini, para tahanan tidak diizinkan bertemu dengan penasihat hukum dan keluarga. Terhadap hal ini, AI mendesak Pemerintah Thailand segera menutup semua pusat tahanan tersebut dan memberi izin penasihat hukum dan anggota keluarga bertemu.

Indonesia dan Malaysia telah berupaya mencari penyelesaian, namun Pemerintah Thailand terkesan tidak serius menyelesaikan konflik berdarah ini. Perwakilan Melayu yang diundang Pemerintah Indonesia untuk membahas penyelesaian kekerasan ini, tidak diakui Deplu Thailand.

Darah terus mengalir dari tubuh-tubuh saudara kita di selatan Thailand. Mereka tidak berdaya menghadapi senjata dan kebengisan. Mereka roboh dan tewas untuk mendapatkan haknya. Kita memang harus memberi perhatian pada Palestina, namun pembantaian di Thailand selatan ini tak boleh dibiarkan: Saudara-saudara kita itu terkulai tak berdaya, berlumur darah, tepat di hadapan kita…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: