Oleh: hendryfikri | Juli 14, 2009

Istri Dominan (Bag-I)

Suatu kali aku dan istriku menyaksikan sebuah acara entertainment “Masihkah kau mencintaiku” di RCTI. Bukannya tanpa alasan kami tidur larut malam, tapi memang ada kerjaan koreksian hasil Ujian anak-anak sekolah, murid istriku. iseng-iseng sambil ngoreksi istriku penasaran juga dengan cerita teman-temanya yg sering menyaksikan acara ini.

Di acara itu disuguhkan tentang pertikaian suami-istri, inti permasalahannya sang istri disebut’terlalu dominan’ dalam rumah tangganya. dipaparkan, si istri yang mengatur semua keuangan keluarganya.

dari mulai rekening tabungan dibawa oleh sang istri, sampai-sampai setiap hari sang suami hanya diberi jatah 50 rb perhari, tidak boleh lebih.Dan hal itu dibenarkan sang istri “ini semua demi kebaikan keluarga kita juga”. Bukan itu saja sang suamilah yang meyuguhkan kopi setiap hari kepada sang istri, mengepel dan pekerjaan rumah lainnya dan lagi-lagi sang istri berkata ”selama ini suami saya tidak keberatan kok”…. kemudian keluarga dari istri maupun suami saling adu argumen untuk membenarkan keluarga masing-masing.

Astaghfirulloh.. segera saja kumatikan tuh TV. “acara yang tidak mendidik, acara begini kok banyak yang suka, mending tidur aja mi, besok lagi aja ngoreksinya”.

Kesal sekali melihatnya, Bagaimana mungkin fungsi seorang suami yang notabene seorang kepala keluarga tidak bisa menjadi seorang decision maker?!?!? dimana izzah seorang suami?

Seorang suami yang benar, harusnya bisa menjadi pemimpin bagi kaum wanita.

Bukannya menjadi tunduk dan selalu patuh dengan kemauan istri.

Kita tahu bahwasanya seorang laki-laki akan diminta pertanggung jawabannya terhadap 4 orang wanita yaitu Istri, ibu, Saudara Perempuan dan anak perempuan.

Wajarlah jika dalam islam laki-lakilah yang paling banyak mendapat bagian dalam hal harta warisan. karena tanggung jawab mereka yang berat. Dalam alqur’anpun Alloh SWT berfirman: “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta-harta mereka… ” (Q.S. An Nisa: 34 ).

Bagaimana dengan kalangan Ikhwan-akhwat sekarang ini?

Akhir-akhir ini saya pribadi seringkali menemukan ummahat yang dengan tidak malu mengenakan kaos kaki ketika keluar rumah, tidak menggunakan manset, mengenakan jilbab yang terlalu tipis dan ketat, ditambah belahan-belahan samping atau belahan belakang, bahkan banyak juga yang menggunakan kerudung yang agak pendek sampai-sampai terkenal sebuah jargon dikalangan ummahat “semakin tinggi ilmunya, maka semakin tinggi (makin naik) kerudungnya)”!!!

Sering saya bertanya-tanya, kok bisa yah suaminya membiarkan hal ini?

Hai Para suami!

Kemanakah peranmu selama ini?

Hanya karena istrimu juga sama-sama bekerjakah, sehingga engkau membiarkan hal ini?

Atau bahkan karena gaji istrimu yang lebih tinggi daripada gajimu?

Kemana tanggung jawabmu hai para suami?

Tahukah engkau para suami, Perilaku istrimu yang mendapat persetujuan mu kelak akan dipertanggung jawabkan hanya olehmu sendiri?

Sanggupkah engkau memikul dosa istrimu, disamping engkau harus menanggung dosamu sendiri?


Responses

  1. Banyak saya jumpai isteri dan anak seorang ustadz yang memakai celana dan jilbab pendek. Apakah penampilan seperti itu sudah mendapat persetujuan dari suaminya karena dibolehkan dalam syari’at ataukah karena suami tidak peduli?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: